Cara Pengolahan Bahan Herbal

PEMANFAHATAN TANAMAN YANG BERKASIHAT OBAT DISEKITAR KITA

Cara Pengolahan Bahan Herbal
Oleh N. Danny Sridana

  • Jenis-jenis bentuk obat herbal (fito-farmaka)

Obat herbal ada berbagai jenis dan bentuk, hal itu terjadi tergantung pemberi resep / pemberi petunjuk dan jenis bahan serta cara mengomsumsinya. Adapun bentuk-bentuk yang umum kita ketahui seperti:

      • Bentuk Boreh / lulur: ini dipakai dengan cara melulurkan kebagain yang sakit diaplikasikan sebgai obat luar. Tujuannya untuk mengeluarkan angin dan keringat (air) yang berlebihan didalam badan, yang menimbulkan efek segar terutama setelah bekerja seharian.
      • Bentuk palet/tablet/kapsul: berisi bubuk yang disiapkan dengan tujuan mudah mengomsumsi, hal ini sangat menguntungkan untuk obat yang memiliki rasa sangat pahit, pedas, atau bau yang kurang sedap.
      • Jamu berupa loloh (infusa) dengan cara mengekstraksi tanaman obat yaitu direbus terlebih daulu dengan suhu sekitar 90 derajat Celcius selama 15 menit lalu didinginkan kemudian diminum dalam keadaan panas atau dingin. Bertujuan agar kandungan zat aktifnya menyatu dengan air resbusan.
      • Jamu kental / pekat (dekok/dekokta) yaitu sediaan berupa jamu yang direbus dengan suhu 90 derajat celcius selama 30 menit.
      • Bentuk teh yaitu: ramuan obat herbal tersebut dibersihkan lalu diseduh dengan air panas atau dilakukan perendaman untuk beberapa saat (bisa bahan masih basah atau sudah dikeringkan terlebih dahulu).
      • Obat kumur dan obat cuci mulut (gargarisma dan kolutorium) umumnya dari tanaman yang berkasihat sebagai astrigen yang dapat mengencangkan atau melapisi selaput lendir mulut dan tenggorokan. Seperti kita membuat obat kumur dari daun sirih.
      • Bentuk sirup yaitu suatu sediaan obat herbal yang dibuat berupa sirup. Suatu larutan bahan aktif dari tanaman dilarutkan dengan sakarosa (gula cair). Kandungan gula yang dicairkan tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.
      • Permentasi (tingtur) suatu bahan herbal yang dipermentasi selama beberapa hari (disekeb) maserasi atau perkolasi dalam istilah kesehatan.
      • Bentuk sediaan ekstrak yaitu: suatu pengeringan dari sari pati dari tanaman herbal kemudian dijadikan tepung yang siap dikomsumsi. Biasanya dimasukkan ke dalam kapsul sesuai dosis agar mudah untuk mengomsumsinya.


Cara yang paling baik untuk mendapatkan dosis bagus dan qualitas yang tepat dengan cara Merebus/ digodok

Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik, atau panci email. Panci dari bahan besi, aluminium, atau kuningan sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini perlu diingat karena bahan tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah, terbentuknya racun, atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat.
Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut: bahan obat dimasukkan ke dalam pot tanah, masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air berada sekitar 30 mm diatasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap ke dalam bahan ramuan obat.
Apabila nyala api tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri-sendiri sewaktu erebus bahan obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil, sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang berkhasiat mengeluarkan keringat, seperti ramuan obat untuk influenza dan demam. Hal ini dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan berlebihan dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.
Apabila tidak ditentukan khusus, perebusan dianggap selesai ketika air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula. Namun jika bahan obat yang direbus banyak yang keras seperti biji, batang, dan kulit kayu maka perebusan selesai setelah air tersisa sepertiganya. Berikut ini cara perebusan yang sedikit berbeda dari cara konvensional yang telah diuraikan diatas, karena adanya bahan-bahan yang memerlukan perlakuan khusus.

  • Direbus terlebih dahulu. Dilakukan bila ada bahan obat yang bear atau keras dan sukar diekstrak seperti kulit kerang atau bahan mineral. Bahan tersebut perlu dihancurkan dan direbus lebih dahulu 10 menit sebelum bahan lain dimasukkan.
  • Direbus paling akhir bila ada bahan obat yang mudah menguap atau bahan aktifnya mudah terurai. Contoh: papermint, atau bahan pewangi. Bahan tersebut biasa dimasukkan paling akhir, kira-kira 4-5 menit menjelang rebusan obat ditingkat.
  • Direbus dalam bungkusan. Beberapa bahan obat harus dibungkus terlebih dahulu dengan kain sebelum direbus untuk mencegah timbulnya kekeruhan, lengket, dan terbentuknya bahan yang dapat menimbulkan iritasi pada tenggorokan.
  • Didihkan perlahan-lahan atau direbus terpisah. Maksudnya untuk menghindari rusaknya zat berkhasiat atau terserapnya zat tersebut bila direbus dengan bahan lain. Contohnya ginseng, bahan ini perlu diiris tipis-tipis kemudian direbus terpisah dalam pot tertutup dengan api kecil selama 2-3 jam.
  • Dilarutkan dengan penyeduhan. Dilakukan bila ada obat yang lengket, kental, atau mudah terurai bila direbus terlalu lama dengan bahan obat lainnya, atau mudah melekat di dinding pot maupun dibahan obat lain sehingga menghambat keluarnya zat aktif obat lain. Contoh gelatin kulit kedelai, dimasukkan dalam cangkir terpisah lalu diseduh dengan air rebusan obat.

 

Salam sehat dari VisionBali Herbal Indonesia,
Jl Tukad badung XXIII/27 Renon Seltan, Denpasar.- Bali

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *