Penelitian Penyakit Tuju rematik

Agama Hindu memiliki kitab pengobatan Ayurvedasuatu ilmu pengetahuan tentang upaya manusia agar dapat sehat sampai usia lanjut (Nala 2002:2). Pengobatan ayurveda ini sebagai cikal bakalnya Usada Bali (Nala 1993: 33).  Terbukti kata Usada yang berasal dari bahasa Sansekerta yakni Ausadhi. Diperkirakan datang ke Bali semenjak perkembangan agama Hindu pada abad V, bersamaan dengan adanya hubungan langsung antara Bali dan India pada saat pesatnya perkembangan pengobatan India. Tidak dapat dipastikan secara tepat kapan Usada mulai muncul dan meluas di Bali, hanya dapat diperkirakan berdasarkan peninggalan prasasti yang tersebar di seluruh pelosok Bali (Nala, 1993:18). Di Bali sendiri memiliki literatur Usada yang berupa Lontar-Lontar Usada yang jumlahnya cukup banyak, tersimpan dibeberapa museum lontar seperti di Museum Lontar Gedung Kertiya Singaraja, Perpustakaan Lontar-lontar,  Geriya (rumah pembuka agama) bahkan masyarakat umum mungkin ada yang menyimpannya. Adapun Lontar-lontarUsada itu seperti  Lontar  Usada Taru PramanaUsada Bodha KecapiUsada YehUsada RareUsada Pengeraksa JiwaUsada Tetenger TiwangUsada Wraspati KalpaUsada WisadaUsadaSari, Usada Lara KamatusUsada Kena Upas, dan Lontar usada lainnya (Nala. 1993: 113). Dari sekian jumlah Lontar Usada yang ada, yang paling populer dikalangan masyarakat Bali adalah Lontar Usada Taru Pramana.  Menurut Wasisto (1977:264) secara harfiah dapat diartikan Taru Pramana adalah suatu pohon atau tumbuhan yang memiliki kekuatan sebagai obat. Dalam naskah salinan Lontar  Usada Taru Pramana (1990)

Dalam kenyataan sebagai fenomena dimasyarakat secara umum dari pengamatan penulis saat kegiatan bhakti sosial atau gebyar pengobatan di masyarakat yang dilaksanakan oleh Fakultas Kesehatan Ayurveda UNHI Denpasar dan kunjungan pasien yang berobat ke klinik–klinik pengobatan alternatif Usada Bali yang ada di Bali  terlihat banyak pasien yang menderita pada persendian dan otot-otot yang mengarah pada penyakit tuju atau rematik, terutama pada usia 40 tahun keatas (Sitanggang (2013). Juga hal yang memberikan daya ungkit penulis tentang penyakit tuju. Hal ini sesuatu yang unik untuk dipelajari atau diteliti lebih lanjut.

I.2 Rumusan Masalah          

Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dan dikaji serta menghindari pembahasan yang terlalu luas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: (1) Apa penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana?; (2) Jenis tanaman obat apa saja yang digunakan untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana? dan;  (3) Bagaimana tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat untuk  menterapi penyakit tujumenurut Lontar Usada Taru Pramana?

I.3 Tujuan Penelitian secara Umum dan Khusus            

Adapun tujuan  penelitian secara umum antara lain: (1) Memberikan informasi lebih lanjut ke masyarakat apa saja penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju menurut naskah salinan Lontar Usada Taru Pramana; (2) Memberikan sumbangsih ke masyarakat tentang pemanfaatan tanaman untuk menterapi penyakit  tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana yang digunakan; (3)  Memberikan informasi ke masyarakat tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat untuk  menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana.; (4) Melestarikan budaya leluhur dalam pengobatan tradisional Usada Bali.

Secara khusus memiliki tujuan: (1) Untuk mengetahui lebih dini mengenai penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana; (2) Untuk mengetahui lebih jelas tanaman obat yang dipakai untuk menterapi penyakit tuju menurut  Lontar Usada Taru Pramana: (3). Untuk mengetahui lebih jauh tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat untuk menterapi penyakit tuju menurut  Lontar Usada Taru Pramana.

I.4  Manfaat penelitian secara Teoritis dan Praktis

Secara teoritis, diharapkan dapat: (1) Menambah dan memperkaya pengetahuan bagi pengobat herbal atau pengobat alternatif (Pengusada) dalam menambah wawasan dan memperkaya pengetahuan serta dapat berpikir secara koprehensif tentang terapi penyakit tujumenurut Lontar Usada Taru Pramana; (2) Bagi penderita diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman pengetahuan kesehatan terutama tentang penyakit tuju; (3) Bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian yang berkaitan dengan masalah ini diharapkan dapat mengadakan penelitian yang lebih mendalam lagi mengenai hal-hal yang belum terungkap dalam penelitian ini.

Dilihat dari sisi praktis dapat memberikan manfaat sebagai kajian dalam praktek kehidupan sehari-hari, agar dapat meningkatkan pemahaman dan pengalaman tentang, penyebab penyakit tuju, ciri-ciri penyakit tuju, jenis tanaman obat tuju, tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat Usada Bali  untuk  menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana.

I.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian, untuk membatasi agar pembahasan dalam Terapi Penyakit Tuju Menurut Lontar Usada Taru Pramana, yang merupakan sumber pengobatan tradisional Bali tidak meluas dan tidak lepas dari permasalahan yang diteliti maka penelitian ini difokuskan hanya sebatas:  (1) Penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana; (2) Tanaman obat yang digunakan untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana; (3) Tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat untuk menterapi penyakit tujumenurut Lontar Usada Taru Pramana.

Naskah yang teksnya dijadikan sumber data utama adalah salinan naskah Lontar Usada  Taru Pramana yang telah dikaji secara filologi oleh Sukersa (1996). Naskah tersebut tersimpan di Museum Lontar, Pusat Documentasi Dinas Kebudayaan, Denpasar dengan nomor naskah: 30.

Difinisi konsep dalam penelitian ini antara lain: (1) Terapi; (2) Penyakit tuju; (3) Menurut Lontar Usada Taru PramanaDalam kamus lengkap Bahasa Indonesia (Ahmad.2006:169),disebutkan kata terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, sedangkan yang dimaksud dengan tanaman obat adalah semua jenis tumbuhan yang memiliki kasihat obat (Nala, 2001:148). Penyakit tuju menurut Nala (1994:199) menyebutkan bahwa penyakit bengkak yang berpindah-pindah, terutama pada persendian tulang dan otot, disertai sakit menusuk-nusuk, didunia kedokteran modern sering menyamakan penyakit tuju ini dengan rematik, Kalimat Lontar menurut kamus Jawa Kuno – Indonesia Robson (1995; 608) bahwa lontaradalah nama pohon lontar atau ental (Bali). merupakan sejenis tanaman palma yang tumbuh didaerah tropis yang memiliki daun, pada jaman dahulu daun palem yang disiapkan untuk ditulisi lalu disusun sedemikian rupa, sebagai penganti kertas jaman sekarang.

Landasan teori yang digunakan adalah fungsionalisme struktural. Menurut Talcott Parsons (2013), asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural. Usada Bali merupakan suatu kegiatan pengobatan atau terapi memenuhi asumsi yang menjadi pangkal dalil serta dianggap benar tanpa perlu membuktikannya. Aktivitas dari persiapan sampai process penterapian dapat diamati, adaptable atau ada unsur penyesuaian dan ada aktivitas, dapat diamati, dimengerti karena sesuai atau adaptable dengan kode etika kedokteran dalam kesehatan yang lebih luas, masih berfungsi dengan baik dimasyarakat, diakui oleh pemerintah, terbukti resmi masuk dalam lembaga pelayanan kesehatan dengan predikat penyembuhan alternatif dibawah pengawasan Departemen Kesehatan, termasuk Bahtera Ramuan Indonesia. Dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1076/Menkes/sw/VII/2003.

Manusia hidup dari alam dan memanfaatkan isi alam untuk mengisi hidup termasuk bahan makanan, minuman, memilihara diri agar tetap sehat mendapatkan nutrisi dari tumbuhan yang ada (Taru Pramana). Apabila kita tidak memahami didalam memelihara kesehatan termasuk diet, maka terjadilah sakit. Salah satu penyakit yang renta untuk kita pahami adalah penyakit tujuatau rematik pada sendi. Sendi bagian tubuh yang tidak kalah fitalnya sebagai alat bantú untuk berkreativitas diri. Mengingat pentingnya kesehatan dalam menjalankan swadarmaning manusia maka penulis berkeinginan berusaha untuk menggali dan menemukan beberapa hal untuk meneliti lebih jauh agar terjawab mengenai penyakit tuju tersebut. Antara lain: apa penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju menurut Lontar  Usada Taru Pramana, tanaman obat apa saja yang dipakai menterapi penyakit tuju menurut Lontar  Usada Taru Pramana dan tata cara meramu serta pemakaiannya untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan teori kualitatif, yaitu sifatnya data yang dikumpulkan tidak menggunakan alat-alat pengukur, menghasilkan data deskriptif, baik berupa kata-kata ungkapan tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2002:3). Dalam teks presentasi mata kuliah pembuatan proposal oleh Prastika (2013) tertulis penelitian kualitatif adalah (1) Memahami sebuah fenomena secara mendalam serta apa adanya;  (2) Terbatas, sebagai acuan teori, tidak mempengaruhi kajian karena bukan membuktikan sebuat teori,  bertujuan   menghasilkan sebuah teori dari data; (3) Dilandasi oleh kekuatan narasi atau bentuk kata-kata; (4) Memilih sejumlah kecil dan tidak harus representatif, dimaksudkan agar  mengarah pada pemahaman yang mendalam, dilandasi oleh kekuatan narasi.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan Ayurveda. Menurut Nala (1993: 75, 9) bahwa Ayurveda yang merupakan ilmu pengetahuan tentang sehat serta mampu hidup sehat, penuh vitalitas dan berumur panjang. Dengan cara melakukan kehidupan yang benar, termasuk disiplin indriya, pikiran, dan pengaturan kehidupan moral dalam masyarakat. Nala (2001: 73) juga menyebutkan untuk dapat menjaga unsur tridosa (unsur air, api dan angin dalam tubuh) keadaan seimbang, tubuh harus tetap dalam keadaan  svasthya atau sehat. Ada 3 (tiga) hal pokok yang harus diperhatikan dalam ayurveda yang diistilahkan tri upasthambha yaitu:  (1) Ahara yaitu melakukan diet seimbang, makan dan minum sesuai kebutuhan baik dalam kualitas maupun kuantitas; (2) Nidra yaitu tidur dengan baik, dalam sistema ayurveda tidur yang baik dikatakan sepertiga dari perputeran hari, hal itu dilakukan guna memperbaiki sistem jaringan yang rusak; (3) Vihara yaitu berperilaku dengan gaya hidup yang alami atau melakukan aktivitas disesuaikan dengan umur dan kemampuan tubuh.

Asal-muasal data ada dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dan dikumpulkan dari sumber primer, sementara data sekunder adalah data yang diperoleh bukan dari sumber pertama, namun sumber kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi, data yang memiliki tingkat keauntetikan yang paling tinggi adalah data primer, bukan data sekunder (Prastowo, 2011: 204-205).

Presedur pengumpulan data  yaitu data primer diperoleh langsung dari sumber pertama, yang memiliki kemampuan dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan penelitian. Data ini adalah naskah Lontar Usada Taru Pramana yang telah difilologikan dan didukung dengan hasil wawancara atau interview dengan para informan sebagai praktisi Usada Bali dan ilmuwan  serta membaca atau meneliti dari beberapa sumber bacaan seperti buku-buku, lontar-lontar usada, makalah, tesis, skripsi, jurnal kesehatan atau literatur yang relevan dengan jawaban dari pokok permasalahan yang diteliti.

            Langkah analisis data dilakukan dengan cara: semua naskah pustaka dan informasi dari informan dipandang cukup, langkah maka langkah berikutnya: Pertama dilakukan pembacaan pada naskah filologi yang telah ada. Kemudian naskah diiventaris, dilakukanlah deskripsi dan perbandingan naskah Lontar Usada Taru Praman . Naskah Lontar Usada Taru Pramana ditetapkan sebagai sumber data. Naskah ini telah dianggap lebih unggul dari sudut keutuhan, bahasa, strukturenya dan kepopulerannya, sedangkan naskah yang lainnya dijadikan pendamping.Naskah sebagai data primer dibaca berulang-ulang agar benar-benar dapat dipahami isinya, juga membaca sumber naskah kepustakaan lainnya yang berkaitan dengan Terapi Penyakit Tuju Menurut Lontar Usada Taru Pramana. Sebagai pendukung teknik pengumpulan data yang keseluruhannya menggunakan rangkaian kata-kata bersifat kepustakaan.

Pertama mengumpulkan data kemudian dibaca kemudian data yang didapat direduksi untuk mendapatkan simpulan dan verifikasi data. Dari kesimpulan sementara dicarikan data pendukung lagi untuk dilakukan penyajian data lebih lengkap kemudian dilakukan kesimpulan dan verifikasi data. Bila belum terasa lengkap dan diperlukan data naskah pendukung lainnya untuk kebenaran penelitian dilanjutkan lagi mencari data pendukung lainnya mengenai penyakit tuju, baik dengan wawancara atau melengkapi data kepustakaan sampai didapat kesimpulan dan verifikasi data yang benar-benar dianggap valid.

Data yang diperoleh, akan dilakukan crost chek data, melakukan observasi secara mendalam dan memperkaya sumber data dan pendekatan teori yang dipergunakan (Sugiyono, 2012: 272). Untuk pengecekan keabsahan atau kredibilitas data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan tiga teknik yaitu: (1) Meningkatkan ketekunan:  Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. (2) Triangulasi sumber dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda dengan para informan atau ilmuwan atau praktisi Usada Bali yang menggunakan ramuan untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana dan sumber data berupa naskah lontar-lontar buku atau document lain yang berhubungan dengan pokok permasalahan; (3) Menggunakan bahan pendukung lian, seperti rekaman hasil wawancara sebagai pendukung data hasil wawancara, kemudian foto-foto sebagai pendukung data dari gambaran tentang interaksi manusia dan sebagianya. Sehingga menjadikan data penelitian terapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana lebih dipercaya atau akurat.

  1. PEMBAHASAN

Naskah-naskah kuno di Bali yang isinya mengenai pengetahuan pengobatan, seperti meramu obat (farmasi), mendiagnosis, mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit, tindakan preventif dapat digolongkan ke dalam klasifikasi Usada (Nala, 1993:93), naskah-naskah Lontar Usada Taru Pramana digolongkan dalam klasifikasi Usada yang selanjutnya disebutkan Usada Taru Pramana. Penggunaan lontar ini sebagai sumber data utama, karena menurut sukersa (1996 : 47) dijelaskan secara garis besar antara lain : (1) Naskah ini menggunakan bahasa campuran bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Bali dengan lebih mudah dipahami; (2) Ditinjau dari segi huruf atau aksara menggunakan aksara Bali serta  lebih jelas hurufnya; (3) Ditinjau dari versi cerita naskah, Usada Taru Pramana ini memiliki versi ceritranya lebih berurutan dan lebih lengkap, misalnya pada awal naskah berisi doa keselamatan dan keberhasilan; (4) Naskah ini berisikan lebih banyak tanaman yang menghadap Mpu Kuturan mencapai seratus empat puluh delapan (148) jenis tanaman. Dalam penelitian ini, naskah Lontar Usada Taru Pramana yang dipilih merupakan naskah yang lebih baik atau lebih sempurna dan lebih lengkap dengan jumlah tanaman yang ada serta jumlah halamannya lebih banyak sehingga isinya lebih lengkap.

Lontar  Usada  Taru Pramana berisi cerita, bahwa pada zaman dahulu ada seorang dukun yang bernama Prabhu  Mpu Kuturan. Telah lama beliau berhasil dalam mengobati berbagai penyakit. Namun tiba-tiba datanglah masa surutnya, setiap orang yang diobati tidak ada yang kunjung sembuh, bahkan semuanya meninggal. Pikirannya menjadi kalut sehingga beliau pasrah dan bertekad melaksanakan tapa di sebuah kuburan. Setelah genap satu bulan tujuh hari (42 hari) bersemedi di atas tempat pembakaran mayat. Turunlah Bhatari dari kahyangan dan berkenaan memberikan anugerah. Sehingga Mpu Kuturan memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa, sehingga mampu untuk memanggil dan menanyai pepohonan, tumbuhan melata, rerumputan dan semak-semak tentang kasihatnya masing-masing yang dapat dijadikan bahan-bahan obat-obatan. Pertama-tama datanglah pohon beringin menghadap, disusul oleh tanaman yang lain silih berganti. Ada disebutkan datang pohon jeruk Semaga adapun percakapan itu sebagai beriku:

“Titiang Taru Semaga, daging don, akah, panes, engket dumelada, dados anggen tamba tuju make sami,  ra, yeh cuka, temu tis 3 iris”.

Artinya:

“Saya pohon jeruk keprok daun dan akar panas, getah sedang, obat sakit rematik. Gunakan semua bagian untuk param, dicampur dengan air cuka dan temutis tiga iris”.

Didalam naskah salinan Lontar Usada Taru Pramana (1990:7a) juga ada disebutkan datang pohon Awar-awar:

“Titiang Awar-awar daging titiang panes, don dumelada, babakan panes, getah panes, akah tis, anggen tamba tuju brahma, babakan anggen loloh rauhing madu, yeh cendana”.

Artinya:

“Saya pohon awar-awar, khasihat panas, daun sedang, kulit batang panas, getah panas, sakar sejuk untuk obat rematik. Kulit batang untuk jamu dicampur madu dan gosokkan air batang cendana”.

Didalam naskah salinan Lontar Usada Taru Pramana  (1990:7a) juga disebutkan datang pohon Jeruju:

 “ Titiang wit jeruju, daging, akah don sami tis, anggen ubad tuju, ambil don tityang makanti ring bawang adas, urapang’’.

Artinya:

“Saya jeruju, khasihat dingin mulai akar sampai daun, obat rematik. Daun dicampur bawang adas, dipakai boreh”

Didalam naskah salinan Lontar Usada Taru Pramana (1990:12b) tersebut, juga ada disebutkan datang pohon buu:

“Titiang Taru buu, daging titiange dumalada, akah, don titiyange dumelada. Tityang dados anggen tamba tuju bengang, ambil babakan tiange solas tebih, ra, santen kane, juuk lengis anggen loloh”.

Artinya:

“Saya pohon buu, khasihat sedang, akar, daun saya sedang. Saya bisa dipakai obat tuju bengang, ambil kulit saya sebelas bidang ditambahkan santan kelapa kental, jeruk nipis, untuk jamu diminum”.

Para pohon datang silih bergantian menyebutkan namanya, sifat tanaman, bagian-bagian pohon yang dapat dimanfaatkan dan kegunaannya untuk mengobati suatu jenis penyakit tertentu.

Untuk dapat dijadikan obat maka bagian-bagian tertentu dari suatu jenis tumbuh-tumbuhan tersebut perlu dicampur lagi dengan mineral, bagian-bagian dari binatang dan bahkan bagian dari tumbuh-tumbuhan lainnya. Diantara mineral yang sering dicampurkan adalah garam dapur, air beserta bahan yang terlarut didalamnya, kapur tohor, belerang, warangan, tawas, kemenyan, dan lain-lain. Sedangkan bagian-bagian dari binatang yang disebutkan seperti telur ayam hitam beserta darahnya, tulang ayam hutan, madu, minyak ular dan sebagianya. Bagian tumbuh-tumbuhan lainnya, diluar tumbuhan yang merupakan ramuan utama adalah berbagai jenis rempah-rempah, yaitu lada, ketumbar, bebolong, mesui, sari lungid, adas dan pulasari. Semua hasil wawancara Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan tersebut kemudian dicatat kembali oleh putra beliau yang bernama Prabhu Narayasa.

Lokasi penelitian tidak terbatas tergantung dari lokasi penemuan data. Mengingat salinan naskah Lontar Usada Taru Pramana yang diteliti tersimpan di Museum Lontar, Pusat Dokumentasi, Dinas Kebudayaan, Provinsi Bali. Maka penelitian ini mengambil lokasi di daerah lokasi keberadaan Museum Lontar tersebut yaitu di Kota Denpasar (Kodya) dan diperluas ke wilayah tempat tinggal informan seperti di wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan.

2.1  Penyebab dan ciri-ciri Penyakit Tuju Menurut Lontar Usada Taru  Pramana.
            Untuk pembahasan penyebab suatu penyakit Tuju menurut Lontar taru Pramana dapat dibahas sebagai berikut:

2.1.1      Penyebab penyakit Tuju Menurut Lontar Usada Taru  Pramana

Berbicara masalah penyebab penyakit tuju di dalam Naskah Lontar Usada  Taru Pramanayang dijadikan kajian dalam penelitian ini, memang belum ada disebutkan, namun apabila seseorang terkena penyakit tuju pasti ada penyebabnya sehingga menimbulkan suatu keluhan kesehatan. Kalau ditinjau dari segi ayurveda bahwa penyebab penyakit karena tidak seimbangnya unsur tri dosha  (vayu/udara, pitta/panas, kapha/cairan) didalam tubuh, khususnya dalam tri uphastambha yaitu tiga hal pokok yang menyebabkan  tubuh tetap dalam keadaan  sehat (Nala. 1993 : 75),  yaitu:

  1. Asupan makanan  yang berperan menyebabkan penyakit tuju, apabila dikonsumsi berlebihan
  2. Istirahat yang tidak cukup adalah penyebab penyakit di dalam kesehatan (nidra), karena keseimbangan tri dosha, sangat berguna dalam memperbaiki system jeringan tubuh yang rusak.
  3. Peningkatan umur akan berperan sekali dalam kemampuan gerak dan aktifitas organ tubuh, makin tua umurnya maka kemampuan beraktifitas (vihara) berkurang,

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Praktisi Pengobatan Usada Bali, I Jero Mangku Ketut Pesta (wawancara, 12 Maret 2014: 11.15) bahwa keadaan tubuh harus disesuaikan dengan kemampuannya. Menurut Nala (1994:199) mengatakan kalau ditinjau dari kedokteran modern penyakit tuju yang disebut dengan rematik.  Menurut (Kholid  (2013: 25) dalam dunia kedokteran yang berperan menyebabkan Penyakit rematik antara lain : (a) Peradangan persendian (Artritis rheumatoid); (b). Pengroposan pada sendi tulang (Osteoartritis). (c) Pelapukan pada tulang sendi (Osteoporosis) dan (d) Karena Asam Urat (Gout Artritis).

2.1.2 Ciri-ciri Penyakit Tuju Menurut  Lontar Usada Taru Pramana.

Dalam salinan Lontar  Usada Taru Pramana (1990) tidak ada disebutkan tentang ciri-ciri tuju, namun jelas-jelas menyebutkan tentang bentuk penyakit tuju yaitu. Penyakit Tuju biasa (…tamba Tuju makasami… /5.a), Tuju Brahma (….tamba Tuju Brahma… /7a) dan Tuju Bengang (…tamba Bengang…/12b). Namun pada naskah lontar lainnya seperti dalam Lontar Usada Sari (1998: 29a) ada disebutkan bahwa tuju dengan ciri-ciri badan meriang disertai dengan sakit terasa menusuk-nusuk (…awaknia maluwang tur pakanyednyed mangancuk-ancuk). Sedangkan menurut  Nala (1994:199) menyebutkan bahwa tuju memiliki ciri bengkak yang berpindah-pindah, terutama pada persendian tulang dan otot, disertai sakit menusuk-nusuk. Sedangkan didunia kedokteran modern sering menyamakan penyakit tuju ini dengan rematik dengan gejalanya seperti sendi terasa nyeri, kaku, bengkak, barah atau tulang terasa ngilu dan kesemutan. Menurut Dinas Kesehatan (2009:271) menyebutkan penyakit tuju memiliki ciri-ciri timbulnya sakit tulang pada buku-buku atau tulang persendian.  Sedangkan dalam alih aksara dari Lontar Usada Tiwang(Dinas Kesehatan, 1982:42) disebutkan bahwa tuju adalah sakit nyeri, kesemutan dan linu .

Didalam salinan Lontar Usada Taru Pramana (1990) disebutkan Tuju Brahma dan Tuju Bengang tetapi tidak ada penjelasan secara rinci baik ciri maupun bentuknya. Namun didalam  Lontar Usada Dalem pada lembaran lontar 24A (Dinas Kesehatan 1982:4) ada disebutkan ciri-ciri Tuju Brahma atau Tuju Ghni  yaitu : tubuhnya panas terasa menggigit-gigit, dan menusuk-nusuk. Hal yang sama menurut Pulasari (2009:47) menyebutkan ciri-ciri Tuju Brahma: warnanya merah, dirasakan panas, berdenyut-denyut.

Sedangkan Tuju Bengang menurut informan I Jero Dalang Wawan Lalar (wawancara, 16 maret 2014) adalah penyakit tuju memiliki ciri-ciri yaitu datangnya neka-neka atau sekali datang dan kadang hilang untuk beberapa hari. Hal tersebut juga dijelaskan ada kesamaan dengan informan I Jero Mangku Wayan Sukerta (wawancara, 14 maret 2014) bahwa penyakit Tuju bengangdatangnya kadang-kadang, biasanya pada menjelang sandikala (saat senja) atau sering saat hari tertentu, rerainan seperti kajeng kliwon. Penegasan menurut informan :  I Jero Mangku Ketut Pesta (wawancara, 12 Maret 2014) bahwa ciri-ciri tuju bengang adalah suatu penyakit yang datangnya sewaktu-waktu saja sesuai dengan keadaan kesehatan si penderita dan bila penyakit tuju ini bikinan orang sakti kemungkinannya kambuhnya setiap rerainan atau hari-hari suci tertentu.

2.2 Jenis Tanaman Obat Yang Digunakan Untuk Menterapi Penyakit Tuju Menurut Lontar Usada Taru Pramana.

Menurut salinan Lontar Usada Taru Pramana (1990: 5a) Jenis tanaman obat yang digunakan untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Taru Pramana, antara lain:

  1. a)Daging, akar, daun dan getah jeruk sumaga atau jeruk keprok (citrus nolibis). Bahan tambahan: air cuka dan temutis tiga iris.
  2. b)Tuju Brahma. Kulit batang awar-awar (ficus septica). Bahan tambahan: madu dan air dari gosokan kayu cendana.
  3. c)Akar dan daun Jeruju atau daruju (acanthus ebracatus). Bahan tambahannya: bawang merah dan adas.
  4. d) Tuju bengang. Babakan atau kulit batang buwu (Spondias Dulcis Forst). Bahan tambahannya: 11 (sebelas) iris dipakai jamu dengan bahan tambahan santan kelapa yang kental, jeruk nipis (tuju bengah).

Jadi menurut Lontar Usada Taru Pramana ditemukan 4 (empat) jenis resep untuk menterapi penyakit tuju.

 

2.3 Tata Cara Meramu dan menggunakan tanaman obat untuk menterapi penyakit tuju menurutLontar Usada Taru Pramana.  

Di dalam Lontar Usada Taru Pramana tidak ada disebutkan cara meramu dan tata cara pengunaannya secara detail namun hanya diungkapkan tentang bentuk obatnya berupa loloh(jamu) dan boreh (parem). Menurut Dinas Kesehatan (2009:258) ada menyebutkan tata cara membuat ramuan Usada Bali sebagai berikut:

  1. a)BerbentukBoreh dapat disamakan dengan parem, berbentuk serbuk halus, dalam penggunaannya dicampur dengan cairan (air, cuka, arak atau alcohol/ ditentukan).

Cara membuat: bahan-bahan yang ada di dalam Lontar Usada Taru Pramana dihaluskan dengan cara diulig atau di lumatkan tidak perlu diperas (biarkan tetap seperti serbuk halus) kemudian dicampur dengan cairan (air, cuka, arak atau alcohol/ ditentukan).

Cara pemakaiannya: obat yang sudah selesai diolah, langsung diparemkan merata pada anggota badan terutama bagian-bagian yang sakit, tidak baik untuk dibagian perut. Kadang-kadang ada pengolahan lanjutan yaitu: sebelum obat diparemkan atau digunakan terlebih dahulu didadah atau dipanaskan terlebih dahulu seperlunya.

  1. b)Berbentuk Loloh atau jamu, Cairan sari pati dari tanaman obat.

Cara pengolahannya: bahan yang keras terlebih dahulu digiling seperlunya, diremas-remas kemudian diperas serta disaring. Campur dengan cairan yang telah ditentukan. Terkadang ada pengolahan tingkat akhir lagi, itu tergantung dari petunjuk atau keleteg keneh (perrasaan) atau keadaan si pasien. Bila perlu diminum hangat harus didadah atau direbus seperlunya. Ada cara lain untuk menghangatkan adalah bahan yang telah digiling ditim (bungkus dengan daun pisang dan dikukus) terus peras untuk dicari airnya.

Cara pemakaiannya: dengan cara diminum.

Hal yang sama menurut Dinas Kesehatan (2008:360), menyebutkan Loloh yaitu: sama berbentuk sari pati namun agak pekat dibandingkan dengan tutuh, ada yang direbus terlebih dahulu atau langsung diminum oleh penderita dan berbentuk serbuk halus untuk diparemkan merata pada bagian yang sakit. Hal tersebut juga didukung Prastika (2014) yang menyebutkanloloh (diminum) dan boreh (dilulur).

Menurut Nala (1994:216) bahwa pengobatan traditional belum ditemukan takaran atau komposisi bahan ramuan atau patokan dosis yang baku seperti pada pengobatan modern. Ramuan obat dalam berupa loloh (jamu) biasanya takarannya berjumlah ganjil setiap bilangan menggunakan bilangan 1 (satu) sampai 7 (tujuh) dan bila dipakai untuk obat luar bilangan angkanya lebih besar namun masih jumlahnya ganjil. Hal ini disebutkan karena tergantung sekali dengan keleteg bayu (inspirasi, pilihan yang timbul ketika meramu ramuan atau melihat keadaan pasien) dari setiap BalianAngka yang jumlahnya ganjil dikatakan angka itu memiliki kekuatan para Dewa, angka yang dibilang baik dan dapat menetral keadaan. Bila jumlahnya genap maka akan selalu terbagi atas dua kekuatan yang sama besar dan selalu bertarung sama kuat. Untuk penyelaran diperlukan penengah atau pihak ketiga sehingga damailah atau tercapai keharmonisan. Dengan takaran serba ganjil diharapkan obat tersebut memiliki kekuatan magis untuk menyelaraskan keadaan tubuh yang sedang tidak seimbang.

Kekuatan magis akibat adanya angka ganjil dan akan berlipat-lipat lagi bila ditambah kekuatan doa atau mantra. Hal yang sama disebutkan oleh informan I Gusti Ngurah Subrata  (wawancara 9 Maret 2014), juga sependapat dengan informan I Jero Dalang Wayan Lalar (Wawancara, 16 Maret 2014) bahwa ada hal penting yang diungkapkan untuk pembuatan obat tidak direbus dengan bara api namun direbus dengan mantra. Hal yang berhubungan disampaikan oleh informan I Jero Mangku Wayan Sukerta (wawancara, 14 maret 2014) bahwa kekuatan obat sada Bali yang berasal dari tanaman obat diperkuat dengan mantra dan pengurip mantra.

III. SIMPULAN

Dari pembahasan diatas dalam terapi pengobatan penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana, dapat disimpulkan bsebagai berikut:

1      Penyebab dan ciri-ciri penyakit tuju :

  1. Dalam Lontar  Usada Taru Pramana tidak ada disebutkan tentang penyebab penyakit tujusecara jelas.
  2. Sedangkan ciri-ciri penyakit tuju didalam Lontar Usada Taru Pramana  tidak ada disebutkan tentang ciri-ciri tuju secara jelas.

2  Jenis tanaman obat yang digunakan untuk menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana, antara lain: kulit batang (babakan), akar, daun dan getah jeruk semaga atau jeruk keprok (Citrus Nolibis), Akar dan daun Jeruju (Acanthus Ebracatus), Kulit batang awar-awar (Ficus Septica) dan babakan atau kulit batang kayu buu.

3      Tata cara meramu dan menggunakan tanaman obat untuk  menterapi penyakit tuju menurut Lontar Usada Taru Pramana,  antara lain: diolah berbentuk loloh (jamu/sirup) yang bahannya dari kulit batang awar-awar (Ficus Septica) dan babakan atau kulit batang kayu buu.Pengunaannya dengan cara diminum dan yang berbentuk Boreh atau parem seperti yang bahannya dari akar dan daun Jeruju (Acanthus Ebracatus), bahannya dari jeruk semaga atau jeruk keprok (Citrus Nolibis), penggunaannya dengan cara diparamkan pada bagian-bagian tubuh yang sakit.

 

Penelitian ini dibuat guna untuk memproleh Gelar Sarjana Kesehatan Hindu di Fakultas Ayurveda, UNHI Denpasar angkatan tahun 2014.

Tertanda Peneliti

 

 

I Nyoman Sridana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *