Pengetahuan Usada Bali

Herbal Product by pt. visionbali

Usada Bali

Sistem Pelayanan Kesehatan tradisional tetap menekankan pada tujuannya, yaitu:

  1. Promotif, yaitu pemelihara dan peningkatkan kesehatan hal-hal ini sangat diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi.
  2. Preventif, yaitu pencegahan terhadap orang yang berisiko terhadap penyakit, terdiri dari : 1) Preventif primer, yaitu terdiri dari program pendidikan, misalnya imunisasi, penyediaan nutrisi yang baik; 2) Preventif sekunder, yaitu pengobatan penyakit tahap dini; dan 3) Preventif tersier, yaitu diagnosa penyakit, pembuatan diagnosa dan pengobatan.
  3. Kuratif, yaitu penyembuhan penyakit
  4. Rehabilitasi, yaitu pemulihan dan proses pengobatan

Menurut Wolfgang Weck (1937: 17-26) menyatakan bahwa balian dibagi menjadi tiga golongan, yaitu (1) balian usada, (2) balian tatakson, dan (3) tukang (pem-bantu) penyembuh, di dalamnya termasuk balian manak, balian wut.

Nala (2002: 113-119) menyebutkan Balian berdasar-kan tujuannya dikenal dua macam, yaitu balian panengen dan balian pangiwa. Berdasarkan cara memperoleh keahliannya balian terdiri atas em-pat kelompok, yakni   (1) balian katakson, (2) balian kapican, (3) balian usada, dan (4) balian campuran.

Usadha berasal dari kata Ausadhi (bhs Sansekerta) yang berarti tumbuh-tumbuhan yang mengndung khasiat obat-obatan. Kata usada di beberapa daerah telah dibalikan sehingga menjadi Usada, berarti ubad, tamba, atau obat (Nala, 2002: 1). Atas pemahaman tersebut maka yang dimaksud dengan balian usada adalah pengobat tradisional Bali yang dapat mengobati keluhan masyarakat dengan menggunakan dasar sastra-sastra Hindu (lontar usada)

Diagnosis diperlukan untuk mengetahui suatu diagnosis yang menetapkan keadaan normal atau keadaan menyimpang yang disebabkan oleh suatu penyakit yang membutuhkan tindakan medis/pengobatan.

Dalam Pengobatan Usada, para Usadawan tentu sudah memiliki dasar sebagai penyebab memiliki kemapuan (kesidian) untuk mengobati clients dengan pakemnya masing-masing. Secara umum bersih diri sekala + niskala, berdoa (meditasi), sebelumnya untuk siap nyayah dan menerima clients dalam kesehariannya tentu telah berdoa kepada Sesuhunan yang disungsungnya dan ritual sesuai pakemnya masing-masing untuk memperkuat / mendapatkan keahlian (kesidian).

Diagnosa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan klien dan keluarganya/pengantar berusaha untuk lebih dekat untuk saling membangun kepercayaan (Usadawan-client)

TAHAPAN AWAL MENDIAGNOSIS:

  1. Pencatatan Identitas pasien: Meliputi nama, umur, jenis kelamin, ras, alamat dan data personal yang lain. Informasi ini terutama penting untuk identifikasi dan keperluan administratif.
  2. Mengajak client bersama-sama berdoa kepada Leluhur, Hyang  Guru atau sesuai keyakinannya masing-masing.
  3. Wawancara: Pemeriksaan awal untuk mendapatkan kesan umum kesehatan. Pemeriksaan oral / melalui wawancara, disamping menunjukkan kepada pasien bahwa keluhan mereka diperhatikan, penilaian demikan akan memberikan garis besar dalam membangun kepercayaan client dan keluarganya. Mungkin diperlukan alat bantu pemeriksaan atau tes khusus. Dari kesan awal mengenai kondisi fisik dan mengumpulkan data secara oral / wawancara dengan client, pemeriksa akan lebih mudah menentukan daerah-daearah mana yang memerlukan perhatian lebih khusus.
  4. Keluhan kesehatan saat ini yang mendorong pasien datang ke Usadawan
  5. Riwayat keluarga ( Family history ): Untuk mengetahui  status kesehatan anggota keluarga, yang kemungkinan dapat mengungkap adanya kecenderungan untuk penyakit tertentu yang diwariskan seperti tensi tinggi, penyakit jantung, diabetes,  dan lain sebagainya.
  6. Riwayat Sosial: Termasuk disini ialah informasi mengenai status perkawinan, jumlah anak, tingkat pendidikan, hobi, kebiasaan dan kesan yang dimiliki terhadap datangnya penyakit yang dideritanya (medis atau non medis).
  7. Pemeriksaan umum lainnya: Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mendapat gambaran umum mengenai status kepercayaan terhadap penyakitnya maupun mental pasien, diantaranya dengan melakukan pengamatan gaya berjalan, status nutrisi, perawakan dan bentuk muka, keterbatasan fungsi, ekspresi wajah pasien dan vital signs.
  8. Periksaan ekstra keadaan fisik ( pemeriksaan symtom) bila diperlukan. Termasuk disini ialah daerah keluhan, dimaksudkan untuk evaluasi kemungkinan adanya kelainan yang berhubungan dengan kesehatan umum dan mempunyai relevansi dengan diagnosis dan keadaan fisiknya.
  9. Evaluasi informasi diagnosis sebagai kesimpulan bersama client dan keluarganya mudian melakukan penterapian.
  10. Mendokumentasikan dan tindakan penanganan terapi.

Tahap ini dalam proses diagnostik Usadawan mengorganisir dan menentukan secara klinik dari berbagai informasi yang telah dikumpulkan, antara lain dengan membandingkan berbagai temuan klinis dengan pengetahuan dasar seperti anatomi, fisiologi, patologi dan berbagai pengalaman klinis yang telah diperoleh sebelumnya.

 TINDAKAN PENTERAPIAN: 

  1. Melakukan pilihan terapi untuk mengatasi masalah kesehatan client.
  2. Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksana terapi dibawah kontrol / diterapi sendirioleh Usadawan yang bersangkutan dan selalu menjaga images, kenyamanan client dan keluarganya.
  3. Menjadi coordinator pelayanan & advocator bagi klien dalam mencapai tujuan terapi.
  4. Memberikan pendidikan pada klien & keluarga mengenai konsep kesehatan tradisional Bali.
  5. Mengkaji ulang & merevisi pelaksanaan tindakan terapi berdasarkan respon klien.
  6. Usadawan bersama-sama clients mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar serta perencanaan terapi selanjutnya.
  7. Berkolaborasi , bila diperlukan berkolaborasi  dengan profesi kesehatan lain
  8. Menjadwalkan kunjungan terapi berikutnya dan mengevalusiasi terapi yang telah diblakukan. Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur  perkembangan ke arah pencapaian tujuan
  9. Mendokumentasikan tindakan penanganan terapi, jenis ramuan dan rencana terapi berikutnya..
  10. Menutup dengan doa sebagai ucapan Trimakasih kepada Leluhur, Hyang  Guru atau sesuai keyakinannya masing-masing dengan harapan apa yang telah dilakoni mendapatkan kesembuhan.

Perencanaan terapi untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien saat itu.

DAFTAR PUSTAKA DIAGNOSIS DAN TERAPI PENGOBATAN TRADISIONAL BALI (USADA BALI)

Beberapa sumber litratur Kuno dalam Usada didalam Bali dalam menentukan diagnosis al:

  1. Lontar Usada Anda Kecacar, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  2. Lontar Aji Gama Reka, Gedong Kirtya
  3. Lontar Aji Pangawasan (Tatelikjati, Gedong Kirtya
  4. Lontar Aji Pangaleakan, Pusat Dokumentasi Bali
  5. Lontar Aji Sundari Gading, Pusat Dokumentasi Bali
  6. Lontar Aji Wegig, Pusat Dokumentasi Bali
  7. Lontar Aserep, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  8. Lontar Bhuana Mabah, Fakultas Sastra Unud
  9. Lontar Budha Kcapi, Dinas Kesehatan PRov. Bali
  10. Lontar Buda Kcapi Cemeng, Pusat Dokumentasi Bali
  11. Lontar Buda Kcapi Putih, Pusat Dokumentasi Bali
  12. Lontar Buda Kcapi Sari, Pusat Dokumentasi Bali
  13. Lontar Buduh, Dinas Kesehatn Prov. Bali
  14. Lontar Catur Dasa Siwa, Gedung Kertya
  15. Lontar Ceraken Tingkeb, Dinas Kesehatn Prov. Bali
  16. Lontar Cukil Daki, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  17. Lontar Dalem, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  18. Lontar Dalem Jawi, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  19. Lontar Dharma Usada Keling, Gedung Kirtya
  20. Lontar Durga Purana Tattwa, Gedong Kirtya
  21. Lontar Edan, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  22. Lontar Ewer, Fakultas Sastra Unud
  23. Lontar Gering Agung, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  24. Lontar Ila, Dinas Kesehatn Prov. Bali
  25. Lontar Jati Terus Tanjung, Gedong Kirtya
  26. Lontar Kalima-Osada Kalima-Osadi, Gedong Kirtya
  27. Lontar Usada Mahaputus, Gedong Kirtya
  28. Lontar Kama Dresti, Dianas Kesehatan Prov. Bali
  29. Lontar Kametus, Gedong Kirtya
  30. Lontar Kanda empat, Pusat Dokumentasi Bali
  31. Lontar Kandaning Usada cemeng, Pusat Dokumentasi Bali
  32. Lontar Kanda empat Sari, Pusat Dokumentasi Bali
  33. Lontar Kanda empat Taterusan, pusat Dokumentasi Bali
  34. Lontar Dasa Bayu, Pusat Dokumentasi Bali
  35. Lontar keputusan Sanghyang Dasa aksara, Pusat Dokumentasi Bali
  36. Lontar Karakah Durakah, Pusat Dokumentasi Pemda Bali
  37. Lontar Karakah Saraswati, Pusat Dokumentasi Bali
  38. Lontar Kuranta Bolong, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  39. Lontar Madwa Kama, Gedong Kirtya
  40. Lontar Mala, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  41. Lontar Mercukunda, Gedong Kirtya
  42. Lontar Modre, Fakultas Sastra Unud.
  43. Lontar Usada Netra, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  44. Lontar Nisakalatatyanta, Geong Kirtya
  45. Lontar Pakakas, Pusat Dokumentasi Bali
  46. Lontar Pakarya Racun Muah Tatempurania, Gedong Kirtya
  47. Lontar Pamugpug Guna-guna, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  48. Lontar Mahabhuta, Pusat Dokumentasi Pemda Bali
  49. Lontar Panestian, Pusat Dokuemntasi Bali
  50. Lontar Pangiwa pusat dokumentasi Bali
  51. Lontar Panglukuhan dasaaksara, Pusat dokumentasi Bali
  52. Lontar Penglukuhan Panca Brahma, Pusat Dokumentasi Bali
  53. Lontar Pengraksa Jiwa, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  54. Lontar Pratiti Semutpada, Pusat Dokumentasi Bali
  55. Lontar Rare. Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  56. Lontar Ratuning Usada, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  57. Lontar Sang Ganapathi, (Ganapati Tatwa), Pusat Dokumentasi Bali
  58. Lontar Sasah Bebai, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  59. Lontar Sesirep, Pusat Dokumentasi Provinsi Bali
  60. Lontar Siwa Sampurna, Gedung Kirtia
  61. Lontar Siwa Chandra Marana Samapta, Gedung Kirtya
  62. Lontar Taru Pramana, Fakultas Sastra Unud.
  63. Lontar Tetenger Baling, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  64. Lontar Tiwang, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  65. Lontar Tiwang Punggung, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  66. Lontar Tua, Dinas Kesehatan Prov. Bali
  67. Lontar Tumbal, Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
  68. Lontar Usada Upas, Gedong Kirtya
  69. Lontar Wisnu Japa, Gedong Kirtya.
  70. Lontar Wong Agering, Dinas Kesehatan Provinsi Bali
  71. Lontar Usada Yeh, Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
  72. Lontar Dasa aksara
  73. Lontar kanda empat
  74. Lontar Kundalini dan tatwa
  75. Lontar Genta Pinara Pitu
  76. Lontar Pemuliah/pengrangsukan aksara dasa dan dasa Bayu
  77. Dan masih banyak Lontar Usada yang lainnya.

Dan masih banyak lagi Lontar-lontar Usdha Bali yang tersimpan di masyarakat seperti di Geriya-geriya, Museum Bali, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Kampus-kampus, Perpustakaan UNHI, Perpustakaan Fakultas Sastra UNUD, dan di penduduk masyarakat lainnya, tidak sedikit naskah lontar yang keberadaannya ada yang sudah usang dimakan usia dan kurangnya perawatan oleh sang empunya dan beberapa masih terawat dengan baik.